Cari Blog Ini

Memuat...

Jumat, 17 Desember 2010

tafsir surat aladiyat ayat 6

إِنَّ الْإِنسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ
6. Sesungguhnya manusia tidak bersyukur kepada Tuhannya!
Kecenderungan yang paling lazim pada manusia adalah kunud, yang berarti 'tidak ada rasa syukur'. Manusia mengingkari rahmat, kasih sayang, dan nikmat Allah. Itu memang sifatnya karena dalam dirinya ada benih ketidak-bergantungan yang menggemakan sifat Allah, Yang Sama Sekali Tidak Bergantung. Dalam kesombongannya manusia menganggap dirinya independen, suatu pemikiran yang sesat mengenai aspek Ilahiah.

وَإِنَّهُ عَلَى ذَلِكَ لَشَهِيدٌ
7. Dan sesungguhnya ia menjadi saksi langsung atas hal itu.
Namun, pada manusia ada sesuatu yang lebih dalam dari rasa tak bersyukur, yakni kesadaran akan kesadaran, dan hal ini menjadikan dia sebagai saksi atas dirinya sendiri dalam situasi tersebut. Manusia sendiri adalah saksi untuk dirinya sendiri ketika dalam keadaan tidak bersyukur. Penyaksian ini tidak bisa terjadi kalau tidak ada sesuatu yang sudah ada dalam dirinya yang bahkan lebih tinggi dari nafs, atau dengan kata lain, kalau nafs yang tinggi tidak menerangi nafs yang rendah. Nafs yang rendah menyangkal, meragukan, bermuka dua, dan berubah warna sesuai dengan keadaan, sedangkan kesadaran yang tinggi menerangi kesadaran yang rendah. Cahaya ilmu pengetahuan sudah ada dalam diri manusia, tapi ia harus membiarkannya memantul dalam mata batinnya, agar ia dapat melihat dengan jelas. Yang dilihat manusia tergantung pada mata yang digunakannya untuk melihat, apakah menggunakan mata nafs yang rendah atau menggunakan mata batinnya yang tinggi.

Ayat 6 dan 7 menegaskan bahwa: Sesungguhnya jenis manusia secara umum, dan lebih-lebih yang durhaka, sangat kikir, dan ingkar terhadap Tuhan yang memelihara dan selalu berbuat baik kepadanya; dan sesungguhnya manusia itu secara pribadi menjadi saksi atau menyadari dirinya bahwa dia memang demikian, yakni kikir dan durhaka. Dia kikir dan durhaka 

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ
8. Dan sesungguhnya ia sangat teguh dalam kecintaannya terhadap harta.
Sifat manusia memang ingin 'terikat' pada hal yang baik—syadid (kokoh, kuat) berasal dari syadda, yang berarti 'mengetatkan, mengikat'. Ia mencintai hal yang dianggapnya baik, walaupun yang kelihatan baik bagi dia saat ini mungkin tidak baik baginya.
karena cintanya kepada al-Khair (harta)*) meluap-luap dan berlebih-lebihan. 

Harta dinamai khair (baik)—oleh ayat di atas—untuk mengisyaratkan bahwa ia harus diperoleh dengan cara yang baik dan digunakan untuk tujuan kebaikan. Ia juga mengisyaratkan bahwa harta benda adalah sesuatu yang baik; semakin banyak ia semakin baik. Yang menjadikan harta tidak baik adalah kecintaan yang berlebihan terhadapnya yang mengantar seseorang bersifat kikir, atau menggunakannya bukan pada tempatnya.

أَفَلَا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ
9. Apakah ia tidak mengetahui, tatkala apa yang ada dalam kubur dibangkitkan
Manusia selalu mencari perlindungan dan kesenangan, dan juga ingin dibiarkan sendiri dengan nilai-nilainya. Ayat ini bertanya kepada kita, 'Apakah manusia tidak menyadari bahwa apa yang tersembunyi dalam hati, apa yang tersembunyi dalam kubur, akhirnya akan keluar?' Akhirnya kita semua akan dikeluarkan dari kubur-kubur kita, dan yang sekarang tersembunyi dalam hati akan diungkapkan dalam kehidupan mendatang. Apa pun yang dikubur atau disembunyikan akhirnya akan terungkap.

وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ
10. Dan apa yang ada dalam dada akan ditampakkan
Hashala berarti 'disamping, jelas'. Apa yang tersembunyi dalam dada akan ditampakkan dan menjadi jelas. Penampakkan ini dapat terjadi sekarang jika kita sungguh-sungguh ingin mengetahui apa yang ada dalam hati kita. Tujuan eksistensi ini adalah mencapai kesatuan, menyatukan yang ada dalam hati kita dengan perbuatan kita, melalui kejelasan dan kesadaran.

Ayat 9 dan 10 melanjutkan kecaman surah ini melalui satu pertanyaan, yaitu: "Maka jika demikian itu halnya manusia yang kikir dan durhaka, apakah dia tidak mengetahui apa yang akan dialaminya apabila dibongkar dengan mudah apa yang ada di dalam kubur dan dilahirkan serta dipisahkan apa yang ada di dalam dada dari kebaikan dan keburukan?"

إِنَّ رَبَّهُم بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّخَبِيرٌ
11. Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itn akan benar-benar mengetahui mereka.
Hari ketika penyatuan atau pembukaan itu terjadi akan menjadi hari kebijakan Tuhan kita. Ketuhanan adalah hal yang menggiring kila kepada tauhid, kepada keesaan. Untuk mendapatkan hikmah dari pengalaman kita dalam kehidupan ini kita harus yakin bahwa apa pun yang ditakdirkan juga akan terungkap dan terang dalam pengetahuan sempurna Tuhan kita.[]

penutup surah ini menegaskan hakikat yang tidak boleh dilupakan oleh siapa pun yaitu: Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui sikap dan aktivitas seluruh makhluk. Pengetahuan-Nya itu akan jelas terlihat oleh semua makhluk termasuk mereka yang kikir dan durhaka itu, lebih-lebih pada hari dibongkarnya segala sesuatu di dalam kubur.


Kekikiran adalah sifat buruk yang diakibatkan oleh cinta yang berlebihan terhadap harta.
Kesaksian manusia terhadap kekikirannya dapat terjadi di dunia, pada saat dia disentuh oleh kesadaran tentang buruknya kekikiran, karena penilaian tentang keburukan kekikiran adalah fitrah manusia dan bersifat universal. Namun, yang pasti kesaksian tersebut terjadi setelah kematiannya pada saat dia menyadari bahwa harta yang ditinggalkannya tidak berguna baginya lagi dan kedurhakaan telah mengantarnya kepada siksa.

Mencintai harta adalah naluri manusia sehingga dibenarkan agama. Yang dikecamnya adalah cinta yang meluap-luap terhadap harta, karena itu berpotensi menjadikan seseorang lupa daratan sehingga mengabaikan nilai-nilai agama dan budaya.
Segala yang dirahasiakan akan tebongkar di Hari Kemudian. Itu diilustrasikan seperti keadaan seorang yang membuka lemari ketika mencari sesuatu dengan tergesa-gesa. Keadaan serupa dalam bentuk yang lebih besar dan serius kelak akan terjadi di dalam kubur. Di sana, dibongkar dan dicari segala sesuatu disertai dengan ketergesa-gesaan membongkar serta kegelisahan siapa yang dibongkar isi hatinya untuk ditemukan detak-detik jantungnya serta apa yang terdapat dalam bawah sadarnya.

Referensi
Tafsir Al-Qurtubhi
Tafsir Ibnu Katsir
Tafsir Al-Azhar